All for Joomla All for Webmasters
featured

Berkunjung ke Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi

Sebuah kesempatan langka, datang ke saya pekan lalu di hari terakhir Bulan Juli 2017. Ada sebuah pesan yang masuk melalui aplikasi whatsapp saya. Isi pesan tersebut mengajak saya untuk datang ke perhelatan Pameran Lukisan koleksi Istana Kepresidenan bertajuk Senandung Ibu Pertiwi. Tak butuh waktu lama berpikir, saya pasti mengiyakan. Pesan tersebut datang dari tim jadimandiri.org.

Jujur saja, mendatangi pameran lukisan bagi saya, sangatlah jarang untuk saya lakukan. Saya memang mengagumi karya seni rupa berupa lukisan, bahkan saya pernah melukis dengan cat air meskipun hasilnya nggak keren-keren amat. Tapi, ke pameran lukisan baik yang tetap atau seasonal ataupun waktu tertentu itu sangat jarang.

Saya hanya pernah mendatangi sebuah pameran lukisan, di Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada di Kawasan Kota Tua. Di sini memang sejumlah lukisan dipajang. Lukisan yang berusia 50 tahunan memang dipajang. Dan memang ada banyak yang menarik.

Kembali ke topik tulisan, saya diundang untuk datang ke Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi ini tanggal 9 Agustus 2017, atau sepekan setelah pembukaan pameran Lukisan yang sedianya dibuka oleh Presiden Joko Widodo yang merupakan penggagas pameran lukisan ini, namun karena kesibukan beliau (sudah pada tahu dong, kalau Presiden ini suka blusukan), akhirnya dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Saya juga diminta oleh Pengundang untuk datang ke event ini, untuk mendaftarkan diri. Langsung saya daftarkan dengan mengisi formulir online. Beberapa hari sebelum hari kunjungan saya ke Pameran ini, saya dimasukkan ke grup Whatsapp yang berisi sejumlah blogger maupun vlogger. Ya! Saya memang akan berkunjung ke Pameran ini dengan sejumlah teman-teman vlogger dan blogger.

Excited? So pasti karena saya akan bertemu dengan teman-teman blogger yang artinya punya kenalan baru, network akan bertambah, dan yang pasti, akan punya pengalaman seru dengan teman -teman blogger.

Di grup whatsapp pastinya kami diberikan jadwal atau rundown untuk kegiatan kunjungan ini. Yang pasti juga informasi seputar apa yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dibawa dan dilakukan selama di pameran, diberitahukan lewat grup ini.

Hari H Kunjungan ke Pameran Lukisan

Waktu kunjungan akhirnya datang juga. Jujur saja, dari Selasa malam, saya sudah tidak sabar untuk datang ke kunjungan ini. Tempatnya di Galeri Nasional yang berada di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Lokasinya berada di seberang Stasiun Gambir, tidak terlampau jauh dari Gereja Imanuel.

Mudah bagi saya, untuk mencapai Galeri Nasional dengan menggunakan sepeda motor. Saya berangkat sekitar setengah sembilan. Perkiraan saya, kurang lebih setengah sepuluh saya sudah tiba di lokasi.

Perjalanan relatif lancar. Masuk ke Galeri Nasional, saya pikir lokasi parkir motor ternyata berada di belakang. Ternyata lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk. Berada di depan. Lah biasanya parkir sepeda motor kan berada di belakang atau di basement.

Saya lihat jam di ponsel saya, ternyata waktu menunjukkan jam sembilan lewat lima menit. Jauh dari perkiraan saya, untuk tiba di lokasi Galeri Nasional. Usai parkir sepeda motor dan mengamankan helm, saya selfit-selfie dahulu di bagian depan Galeri Nasional. Tak cuma selfie, saya juga mengambil gambar.

Usai foto-foto, saya menuju ke lokasi tempat berkumpul teman-teman dan panitia. Lokasinya ada di Cafe Galeri Nasional. Tidak sulit mencari cafe ini, karena dari kejauhan saya sudah melihat ada tulisan tanda Cafe. Sesampainya di Cafe, sudah ada beberapa teman yang berkumpul.

Waktu registrasi memang masih jam 10.00 WIB. Jadi sejumlah teman-teman masih ada yang belum datang. Tak lama berselang, akhirnya sudah mulai banyak yang berdatangan, dan registrasi berlangsung. Banyak juga teman-teman yang datang. Lebih dari 30 orang.

Setelah registrasi dan makan siang, kami diberikan brief singkat dan langsung diajak untuk menuju ke tempat registrasi untuk masuk ke dalam lokasi pameran. Karena kami para blogger dan vlogger datang berkelompok, panitia yang meregistrasi kami.

Tas slempang saya, harus saya titip. Yang boleh dibawa hanyalah ponsel dan powerbank. Tak apa. Saya memang tidak memiliki kamera DSLR ataupun Mirrorless, jadi aman deh. Petugas penitipan juga sangat ramah, begitu juga dengan petugas keamanan dan registrasi.

Kami diberikan stempel berwarna merah di tangan. Tulisannya Senandung Ibu Pertiwi. Wah-wah. Serasa masuk di salah satu lokasi hiburan di Kawasan Ancol. Kami pun menuju ke lokasi pameran di gedung yang berada di tengah-tengah Kompleks Galeri Nasional.

Mengagumi Lukisan

Untuk masuk, kami harus menapaki tangga. Sesampai di gerbang masuk, dilakukan pemeriksaan. Apa yang berada di kantong kami, harus kami keluarkan dan dipegang. Petugas pun menggunakan metal detector memeriksa badan kami. Seperti masuk di Bandar Udara. Begitulah suasananya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas, kami langsung disambut sebuah panel LED yang memamerkan lukisan berukuran besar karya Konstantin Egorovick Makovsky. Meskipun hanya dipamerkan dalam bentuk LED, ukurannya hampir sama dengan lukisan sebenarnya. 295cm (tinggi) dan lebar 450cm. Kebayang kan besarnya seperti apa.

Petugas yang menjelaskan kepada kami, Lukisan ini sudah berusia 125 tahun dan merupakan hadiah dari Pemimpin Rusia kepada Presiden Soekarno ketika berkunjung kesana. Lukisan ini menggambarkan Pesta Adat Rusia. Sangat indah terlihat meskipun melalui LED.

Untuk diketahui, Lukisan oleh Makovsky ini hanya ada tiga di dunia. Bukan lukisan yang sama ya, namun lukisan hasil karyanya. Dua lukisan berada di Indonesia dan satu lagi berada di Inggris. Kenapa dipajang hanya menggunakan LED, Lukisan ini sudah pernah direstorasi tahun 2002. Karena sudah cukup tua, akhirnya diputuskan untuk dipajang melalui LED saja.

Lanjut ke dalam, kami langsung menemukan lukisan-lukisan Nuansa Alam. Lukisan tentang keragaman Alam, dipajang. Yang menarik perhatian saya di bagian dengan tema Nuansa Alam ini adalah Lukisan Pantai Flores karya Basoeki Abdullah. Lukisan ini, merupakan pelukisan kembali Lukisan Soekarno ketika diasingkan di Ende.

Soekarno yang meminta Basoeki Abdullah untuk melukiskannya kembali. Begitu cerita pemandu kami.

Di tema alam ini, saya sempat melihat Lukisan Pemandangan Alam Sulawesi karya Henk Ngantung. Tahu Henk Ngantung kan? Beliau adalah mantan Gubernur DKI yang ditunjuk Soekarno sebelum Ali Sadikin dan merupakan perancang patung Selamat Datang di Bundaran HI.

Lukisan tertua adalah hasil Karya Raden Saleh dengan judul Harimau Minum. Harimau Minum ini dibuat tahun 1863 dengan sangat mendetail. Daun-daun dipepohonan dengan cahaya matahari dibuat sangat detail. Saya cuma bisa bilang Wow!

Setelah tema Nuansa Alam dengan cat tembok warna Hijau, kita akan bertemu dengan Lukisan-lukisan bertema Dinamika Keseharian. Lukisan-lukisan ini pastinya tentang Keseharian.

Lukisan yang saya kagumi disini adalah, Lukisan Ida Bagus Made Widja tentang Warga Bali yang menyambut kedatangan Presiden Soekarno. Saya memang bukan ahli lukisan, tetapi, saya bisa melihat bahwa lukisan ini memang bergaya Bali. Seperti yang kita lihat di beberapa tempat di Bali gayanya.

Meski begitu, lukisan ini, sangatlah detail. Presiden Soekarno digambarkan memakai baju putih di bagian tengah Lukisan.

Perhatian saya di bagian Dinamika Keseharian ini adalah, Lukisan Tino Sidin. Masih ingat dengan Tino Sidin? Ketika jaman TVRI berjaya, semasa saya masih duduk di Bangku SD, Pak Tino Sidin dengan topinya yang Khas mengajarkan cara melukis.

Untuk bagian Dinamika Keseharian ini, temboknya bernuansa Merah Marun. Oh iya, ada satu lukisan yang unik bernuansa tiongkok di sini. Saya pikir lukisan Tiongkok, namun ternyata, lukisan Penjual Sate Madura tetapi dibikin bergaya lukisan tiongkok.

Petualangan saya di Pameran Lukisan IStana Senandung Ibu Pertiwi ini berlanjut ke Tradisi dan Identitas.

Di bagian ini, tembok bernuansa biru. Lukisan yang dipajang adalah Lukisan protrait atau potret wanita berkebaya, ataupun yang memakai baju daerah. Ada sebuah lukisan wanita berkebaya kuning yang mengundang decak kagum saya.

Mengapa mengundang decak kagum saya, karena wanita yang dilukiskan, menurut saya, cantik berbalut Kebaya. Yang melukis, adalah Sumardi, tahun 1964. Entah siapa wanita yang berada di Lukisan ini.

Dipenghujung bagian ini, diberikan penjelasan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tentang Kebaya.

Seusai Bagian ini, saya akhirnya menemukan lukisan yang sangat ingin saya lihat. Lukisan apa itu?

Ya! Itu adalah lukisan Nyai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah. Saya yang sudah mengetahui soal kehadiran lukisan ini semenjak pekan lalu, sangat gembira melihat lukisan ini. Dari sekian banyak lukisan, saya paling suka adalah lukisan ini.


Lukisan Nyai Roro Kidul ini, merupakan bagian dari Mitologi dan Religi. Basoeki Abdullah membuat lukisan ini tahun 1955. Sudah Enam puluh tahun lebih usia lukisan ini.

Berdekatan dengan lukisan ini, Lukisan Gatot Kaca dengan Anak-anak Arjuna Pergiwa-Pergiwati. Tahun dia melukisnya sama dengan Nyai Roro Kidul, 1955. Ukuran lukisan ini adalah 255 x 170 cm. Cukup besar.

Bagian Mitologi dan Religi ini rupanya bagian terakhir dari Pameran Lukisan Istana dengan Tema Senandung Ibu Pertiwi.

Sebelum kita keluar dari lokasi pameran ini, kita akan disajikan Lukisan Karya Basoeki Abdullah berjudul Djika Tuhan Murka. Lukisan ini menggambarkan kemarahan Tuhan kepada manusia. Saya melihatnya cukup seram. Seperti dooms day atau hari kiamat.

Di sisi kanan bawah ini, ada tulisan tangan Basoeki ABdullah, Untuk Bung Karno Pribadi. Lukisan ini memang hadiah dari Basoeki Abdullah untuk Bung Karno, Presiden Pertama RI.

Saya pun selesai mengunjungi dan mengagumi lukisan-lukisan karya maestro senirupa Indonesia. Empat bagian dari pameran lukisan dari Nuansa Alam hingga Mitologi dan Religi terangkai menjadi senandung Ibu Pertiwi.

Setelah keluar dari Gedung pameran, saya melihat ada mural yang sangat "instagrammable". Tidak mungkin saya lewatkan untuk berfoto dan posting di Instagram.

Terima Kasih untuk Tim Jadi Mandiri yang sudah mengajak saya untuk datang melihat pameran ini. Sebuah pengalaman yang berharga dan sangat keren bagi saya.

Tulisan ini juga bisa dibaca di bacirita.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Terbaru

To Top